Kisah perjalanan padagang ketoprak

Banyak orang yang mengatakan bahwa untuk menjadi orang yang sukses itu harus lulus sarjana!! Apa iya??. Namun, pada kenyataannya saya melihat bahwa banyak sekali orang sukses yang masih lulusan SMP bahkan SD. Banyak yang berkata bahwa untuk membuat usaha itu kita harus memiliki modal yang banyak. Tapi pada kenyataannya banyak kisah sukses para pengusaha yang memulai dari modal nol.

Jadi, bagaimana?? Mau jadi orang sukses itu harus banyak belajar. Belajar bisa dari mana saja. Mulai dari bangku sekolah, autodidak, sampai pengalaman. Dan sekarang saya akan belajar yang berasal dari kisah pedagang ketoprak.

Perjalanan saya sebagai seorang mahasiswa UIN Jakarta tak luput dari yang namanya bangun pagi, makan, beranjak ke kampus, belajar, hingga berorganisasi. Biasanya ketika waktu sudah mulai siang, para mahasiswa/mahasiswi bertebaran untuk mencari makan. Dan pastinya saya memilih ketoprak sebagai makanan favorit saya. Dari sinilah saya belajar kisah sukses perjalanan ketoprak Horidin..

Sebut saja pak Horidin, berasal dari Brebes Jawa Tengah. Awal memulai bisnis ketoprak Horidin ini, berawal dari ketika ia lulus SD. Karena permasalahan ekonomi, akhirnya ia memutuskan untuk berjualan dan tidak melanjutkan sekolahnya.

Bagi para pembaca yang masih bingung apa itu ketoprak. Ketoprak itu sendiri adalah campuran tauge, lontong, dan tahu yang dibalur sambal kacang serta diberi topping kerupuk yang renyah. Untuk memulai bisnis ketoprak itu sendiri, ia belajar secara otodidak melalui temannya. Mulai dari cara membuat lontong hingga penyajian.

Pak Horidin sendiri telah berjualan ketoprak mulai dari tahun 80an hingga saat ini...lumayan lama sekali bukan?? Ia berjualan ketoprak dengan mengadu nasib dari Brebes menuju Ciputat. 

Mulai dari pukul 07.00 pagi hingga 14.30 WIB pak Horidin dapat menjual ketoprak tersebut 30 sampai 40 porsi setiap harinya. Untuk harga ketoprak itu sendiri dijual 12.000 perporsinya. Dan untuk keuntungannya sendiri bisa kita perkirakan bahwa setiap harinya bisa meraup sebesar 480.000 dan kalau kita hitung perbulan bisa dapat 14.400.000. 

Bagaimana?? Lumayan sekaleh bukan???
Saya pernah bertanya mengenai kendala yang dapat menghambat berjalannya proses berdagang, dan ia pun menjawab bahwa kendalanya hanyalah ketika hujan. Karena pada saat itulah konsumen banyak yang tidak membeli dikarenakan hujan.

Saya bertanya kembali mengenai cara pemasarannya mengapa ia hanya memilih untuk berdiam diri dibandingkan dengan berkeliling. Dan jawabannya karena hal tersebut lebih menguras tenaga dan dengan berdiam diri di tempat yang cukup strategis dapat lebih menguntungkan. Dan lagi pak Horidin sendiri tidak merasa adanya persaingan dikarenakan hanya ia sendiri satu-satunya pedagang ketoprak yang berjualan di depan kampus FEB tersebut.

Alasan mengapa ia memilih untuk berjualan ketoprak ialah selain biayanya murah, proses pembuatannya lumayan mudah, serta halal untuk dilakukan. 

Hikmah yang dapat kita ambil dari kisah tersebut adalah tetaplah bersabar dalam keadaan apapun dan pilihlah pekerjaan yang halal walaupun tidak menuai hasil yang berlimpah.

Comments

Popular posts from this blog

Ulangan Tengah Semester yang menggembirakan

Kisah sukses Bob Sadino